Promo menarik pada undian Data Sidney 2020 – 2021.

JawaPos. com – Hari kembali tahun (HUT) Persebaya ke-94 yang jatuh pada Jumat (18/6) diwarnai oleh lagak ricuh antara Bonek dengan polisi. Pasalnya, sejak Kamis (17/6) malam, pendukung Persebaya, Bonek, bermaksud untuk menuju ke depan Stadion Roh 10 November. Namun, mereka dihalangi oleh aparat kepolisian pada Jumat (18/6) dini hari.

Bukan minus alasan polisi menghentikan jalan bonek menuju stadion legendaris itu. Pasalnya, mereka khawatir ada lonjakan kasus Covid-19 bila tidak ada renggang antara Bonek. Dari pandangan JawaPos. com , sejak Kamis pukul 19. 00, ribuan Bonek berdatangan menuju ke Roh 10 November. Namun, sebab akses menuju tempat tersebut ditutup, mereka berkumpul di sekitarnya. Di antaranya, Berkepanjangan Ngaglik, Jalan Kapas Krampung, hingga gang kecil kaya Teratai, Jagiran, dan Bogen.

Pada jam 00. 30, aksi Bonek mendekati Gelora 10 November dihentikan oleh polisi yang berjaga di sekitar Ulama Ngaglik serta Jalan Kapas Krampung. Meski dijaga polisi, Bonek terus maju dan mendesak polisi. Alhasil. Tak ayal, kericuhan terjadi.

Beberapa oknum melangsungkan pelemparan batu, kemudian, bagian petugas yang berjaga merespons dengan menembakkan gas air mata. Permintaan polisi buat tetap tenang dan tak saling lempar batu tak digubris massa. Gas minuman mata tersebut tidak hanya menenangkan massa, namun selalu sempat menghentikan aksi lemparan batu.

Namun, selang beberapa menit lalu, aksi saling lempar tekak kembali terjadi. Karena status riuh dan para Bonek saling dorong, lemparan keras kepala mengenai sesama Bonek.

Muhammad Firgi, pemuda asal Balongpanggang, Kabupaten Gresik menjadi salah satu korbannya. Padahal, Ia mengaku hendak menenangkan sesama suporter. “Aku mek pengen ngademno bahkan kenek (aku cuma pengen menenangkan malah kena batu, Red), ” akunya.

Source